Akhir-akhir ini sosial mediaku penuh dengan hastag #10YearChallenge yang berisi kolase perbandingan foto mereka tahun 2019 ini dengan foto mereka tahun 2009 lalu. Asyik ya, ketika ada challenge kayak gini, akhirnya folder foto lama nan alay di Facebook terbuka. Mungkin beberapa yang ngelihat foto itu bakal teriak ke diri sendiri dan meratapi betapa alay, norak, dan buremnya foto kita dulu (karena dulu kamera hp masih banyak yang VGA). Tapi pasti bangga juga dong, karena meskipun foto lamanya nggak karu-karuan, fotonya yang sekarang bening, cantik/ganteng, make up on, dan puberty goals banget.

Aku pengen ikutan sih, tapi folder dan album lama berisi foto alay itu sudah aku lenyapkan beberapa waktu lalu bersamaan dengan pembersihan reputasiku pffft. Lagipula, tidak ada perubahan yang signifikan antara aku yang dulu dengan aku yang sekarang wkwkwkwk…. Jadi, buat kalian yang ikut tantangan ini, kalian benar-benar patut disebut sebagai penjaga yang baik. Foto 10 tahun aja dijaga lho, apalagi jodoh dong ya…. Nggak tau lagi kalau jagain jodoh orang.

Oke lanjut. Lalu, kenapa aku membuat postingan berjudul #10YearChallenge ini kalau aku nggak ada foto? Apakah ini clickbait? Enggak kok. Aku pengen ikut #10YearChallenge tapi bukan foto. Aku pengen sharing perbedaan antara 2009 dengan 2019 mengenai pengalamanku sebagai Badminton Lover (BL). Karena pas lihat foto-foto #10YearChallenge ini, aku jadi kepikiran tentang masa-masa sulit di 2009 itu dan betapa banyaknya hal yang sudah berubah secara signifikan (salah satunya foto berikut).

2009
Aku inget banget tahun 2009 itu masa jayanya Facebook, di mana Facebook sangat bersih dari hoax. Aku masih SMP waktu itu, dan aku adalah penggemar berat bulutangkis beserta atlet-atletnya (FYI aku BL angkatan 2008). Pas 2008, BL di Indonesia meningkat drastis karena Tim Uber Indonesia berhasil masuk final di ajang Thomas Uber Cup 2008. Nama-nama seperti Maria Kristin, Jo Novita, Vita Marissa, Pia Zebadiah, Liliyana Natsir, Greysia Polii, Hendra Setiawan, Markis Kido, Simon Santoso, Taufik Hidayat, beserta segenap pelatih dan pengurus PBSI menjadi idola baru di mata masyarakat Indonesia (termasuk aku).

Kalian pasti paham kan, rasanya mengidolakan seseorang itu gimana? Mulai dari koleksi foto-foto, video, poster, hingga gabung ke klub bulutangkis. Sebenarnya pengen juga mengikuti keseharian atlet, tapi harus cukup hanya dengan membaca koran, dengerin radio, paling mentok nonton talk show yang ngundang bintang tamu atlet tersebut.

Masuk tahun 2009, Facebook hits di kalangan anak SMP kayak aku. Display name-nya masih pada alay, fontnya besar kecil, fotonya gaya emo, di kolom “Bekerja di” diisi PT. Mencari Cinta Sejati. Ah sudahlah…

Kedatangan Facebook membuat BL seluruh Indonesia saling bertemu. Bahkan aku seneng banget saat nemuin teman-teman dengan hobi dan idola yang sama. DAAAANNNN….. Kami mulai cari nama idola kami. Aku inget banget, atlet pertama yang aku search adalah Liliyana Natsir. Pertama lihat avanya, OMG IS THIS THE REAL BUTET??? Pengen banget aku add, tapi takut karena terlalu deg-degan dan seneng. Sekalinya mau di-add, ternyata nggak bisa karena Liliyana Natsir punya terlalu banyak Friend Request (Gitu deh kata Facebook). Akhirnya aku cari semua nama atlet-atlet idolaku, aku add semua, nunggu mereka konfirmasi. Dan seneeeeeng banget pas dapat notif bunyinya “idolamu menkonfirmasi permintaan pertemanan anda”. Sekalinya punya temen idola sendiri, ada yang bilang kalau ternyata itu akun palsu, idola itu nggak punya akun sosal media, dan lain sebagainya huft….

Ini salah satu pesan yang aku kirim ke Simon Santoso. Aku baru dikonfirm sama dia tahun 2011. Karena pesanku dibalas dengan hitungan yang termasuk cepat, banyak yang bilang kalau itu akun palsu. Tapi akhirnya Simon sendiri (atau siapa ya aku lupa) ngaku kalau ini akun asli Simon Santoso.

FYI nih, atlet dulu emang jarang banget main sosial media. Jarang ada yang punya Facebook. Kalaupun punya, mereka jarang banget online atau update. Kan BL sering nih buat editan foto atau cerita fiksi tentang mereka dan ngetag mereka. Kalau tiba-tiba mereka respon, OMG itu pasti udah jadi omongan dan rame banget di koloni BL. Coontohnya salah satu cerpen buatanku berjudul Dia Membawa Hatiku ini. Dulu aku seneng banget nulis cerpen tentang atlet-atlet bulutangkis. Dan couple idolaku dulu Maria Kristin sama Simon Santoso. Aku buat cerpen ini murni dengan niat menghibur, karena aku tiap minggu selalu post cerita baru. Nggak taunya ditanggepin sama Maria (Marsel Ky) dan Simon (Santoso Simon), sampe para BL heboh (FYI, jaman dulu 71 suka dan 118 komentar udah high rated untuk bocah SMP kayak aku).

Sampe segitunya banget lho aku dulu kalau mau reach idolaku. Mencoba mencari perhatian mereka agar mereka buka Facebook dan nyenengin kami, itu nggak gampang huft.

2019
Dan sekarang, tahun 2019, kalian pasti tahu bagaimana perkembangan teknologi dan menjamurnya media sosial dari yang lambang burung sampai kamera, dari warna biru sampai merah. Atlet-atlet sekarang lebih memanjakan penggemarnya, ya nggak sih? Mereka punya semua akun media sosial, tanpa kita takut itu akun palsu. Mereka juga sering banget update di media sosial, sampe kolom komentar harus diblock karena komen-komen para netizen yang nggak karu-karuan. Bahkan kalau mereka diundang di talk show, nggak takut ketinggalan karena ada Youtube yang siap diputar kapanpun kita mau. Pernah nih, tahun 2008 dulu Tim Uber Indonesia diundang di salah satu talk show. Karena talk shownya malem, aku ketiduran. Besoknya temen-temenku pada cerita kalau talk shownya semalem seru banget, ada atlet ini, ada atlet itu. Ya ampun, aku bener-bener nyesel banget waktu itu. Aku nyesel kenapa aku harus ketiduran? Kenapa harus aku yang nggak nonton talk show itu? Sampe tahun 2010, di mana aku baru punya akses Youtube sendiri, aku baru bisa nonton talk shownya itu karena kebaikan salah satu akun yang mau mengupload talk shownya. Pernah nggak kalian nyesel selama dua tahun gara-gara kelewatan talk show? Aku sih pernah.

10 tahun memang waktu yang cukup untuk merubah segalanya dengan drastis sih. Jadi, kapanpun kalian mau mengeluh tentang pesatnya teknologi sekarang dan betapa kalian mendambakan indahnya jaman dulu tanpa sosial media dan lain sebagainya, ingatlah perjuangan BL seperti kami, yang sangat mengidolakan atlet tertentu, tapi kami nggak tau harus gimana kalau mau interaksi sama mereka. Sekalinya sekarang sosial media udah oke, atlet-atlet idola jaman 2008 sudah pada banyak yang pensiun:(

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *