Judul: the Lord of The Rings, The Return of The King

Penulis: J. R. R. Tolkien

Desain Cover:  Warner Bros Entertainment inc.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-979-22-8834-6

Cetakan ketujuh, 2012

Jumlah Halaman: 520 halaman, 23 cm

Dipinjam dari Perpustakaan Daerah Sidoarjo

 

Blurb Dalam pertempuran terakhir melawan pasukan raja kegelapan, korban-korban kembali berjatuhan. Gondor dikepung. Denethor kehilangan akal sehatnya. Bantuan dari Rohan terhambat oleh pertempuran di Padang Pelennor. Theoden gugur dan Eomer mengambil alih kepimimpinan. Saat harapan hampir padam, datanglah rombongan kaum Dunedain yang dipimpin oleh Aragorn. Gondor, Rohan, dan kaum Dunedain bersatu menggempur pasukan Mordor. Namun masih ada perjalanan menuju jantungnya Mordor, sebab cincin itu belum dimusnhakan. Cincin itu kini berada di tangan Gollum, yang sangat menginginkannya untuk dirinya sendiri.

 

Sinopsis Karena kecerobohan Pippin yang melihat ke dalam Palantir, dengan menunggangi Shadowfax, Gandalf akhirnya membawa Pippin ke Minas Tirith (Kerajaan Gondor) yang selanjutnya menjadi asisten pelayan penguasa kerajaan. Gandalf berniat untuk mengingatkan Denethor, pelayan sekaligus penguasa kerajaan untuk bersiap menghadapi perang yang akan dilancarkan oleh Mordor. Namun Denetror ternyata sedang depresi karena kehilangan Boromir, anak pertamanya. Mendengar berita bahwa Minas Tirith akan dikepung, pasukan Rohan langsung berangkat mengumpulkan pasukan untuk membantu Gondor. Di sisi lain, Faramir, Kapten Gondor yang merupakan adik Boromir, masih bersikukuh untuk mempertahankan Osgiliath, ibukota Gondor, dengan perkiraan Orc akan menyerang dari utara. Namun perkiraan itu meleset, saat tiba-tiba di suatu malam Banyak Orc yang menyerang dari sungai. Osgiliath berhasil dikuasi oleh musuh, dan Faramir kembali ke Minas Tirith untuk melaporkan hal ini kepada ayahnya. Denethor murka mendengar bahwa Osgiliath telah ditakhlukkan musuh. Dan ia meminta Faramir untuk merebut kembali apa yang sudah dipertahankan dengan susah payah oleh Boromir. Faramir sempat menolak karena menurutnya, kehilangan sepasukan bagi musuh tidaklah masalah, tapi akan bermasalah besar jika kehilangan itu menimpa Gondor yang kekurangan pasukan untuk bertempur. Denethor tetap bersikeras untuk memerintah Faramir. Hingga akhirnya Faramir berangkat.

Di Negeri Rohan, bala tentara siap berangkat menuju Gondor dari Helm’s Deep di pagi hari setelah mereka bertemu sepasukan Kaum Dunedain. Aragorn, Gimli, Legolas, dan Kaum Dunedain berpisah dengan rombongan Rohan, dan memilih Jalan Orang Mati, yang konon katanya tak ada seorangpun yang pernah keluar dari jalan ini. Kaum Rohan sempat keberatan, terutama Eomer, keponakan Raja Theoden. Tapi Raja Theoden yang berhati besar mengijinkan Aragorn dan pasukannya melewati jalan itu.

Minas Tirith telah dikepung musuh saat Raja Rohan menerima panah merah dari Gondor tanda bahwa Gondor meminta bala bantuan secepatnya. Tapi Raja Theoden menyampaikan bahwa ia dan pasukannya tidak mungkin sampai dalam jangka waktu dua hari sekalipun karena rakyatnya terpisah-pisah. Faramir terluka parah saat kembali dari Osgiliath. Ia tertusuk panah beracun yang menyebabkan ia menderita demam tinggi. Akhirnya Gandalf yang memimpin pasukan Gondor untuk melawan, mengingat Denethor menjadi tambah gila saat mengetahui Faramir sedang sekarat karena ambisiusnya untuk mempertahankan Osgiliath. Gerbang pertahanan Gondor sangat kuat dan tidak mudah dihancurkan musuh. Tapi musuh melemparkan sesuatu yang bisa meledak dan membakar Minas Tirith dari dalam, membuat warga di Minas Tirith ketakutan dan hilang harapan.

Aragorn dan pasukannya telah masuk ke dalam jalan orang mati. Mereka berniat menagih janji kepada pasukan yang bersemayam di daerah itu yang dulu sempat menghianati Isildur untuk membantu Isildur berperang. Aragorn, yang merupakan pewaris Isildur, memiliki hak untuk menagih janji itu, karena mereka pasti kekurangan jumlah jika dibandingkan dengan pasukan Mordor. Suasana di dalam Jalan Orang Mati sangat hampa. Semua serasa hampa, bahkan Legolas, yang tidak bisa merasa takut pada apapun merasakan hal yang aneh di dalam situ. Hanya Aragorn yang tidak merasa takut sama sekali selama di jalan itu. Ia benar-benar ingin menagih janji pasukan yang berkhianat pada isildur. Hingga ia berhasil keluar dari Jalan Orang Mati dengan satu pasukan kelabu yang merupakan arwah-arwah para penghianat. Ketika pasukan Aragorn sampai di sungai, sungai itu dipenuhi kapal layar milik Corsair dari Umbar, sekutu Mordor yang akan berlayar menuju sungai di Osgiliath. Tapi sebelum mereka sampai di Osgiliath, mereka telah diserbu oleh pasukan kelabu.

Di tengah kobaran Minas Tirith, Denethor mencoba untuk membakar Faramir yang sekarat bersama dengan dirinya. Pippin, yang menyadari bahwa Denethor sudah benar-benar tidak waras, memanggil Gandalf untuk menyelamatkan Faramir dari kegilaan Denethor. Hingga akhirnya Faramir berhasil diselamatkan dan dibawa ke rumah penyembuhan, sedangkan Denethor terbakar dengan membawa palantir di tangan.

Kaum Rohirim sampai di Minas Tirith saat gerbang utama kota tersebut telah dikuasai musuh. Raja Theoden langsung memimpin pengepungan musuh di Padang Pelennor dan berhasil menggempur musuh untuk mundur. Dan tepat pada saatnya pula, Aragorn datang bersama Gimli, Legolas, dan Kaum Dunedain. Raja Theoden tewas dan Hantu Cincin Nomor Satu berhasil dibunuh pada perang tersebut yang mengakibatkan luka parah pada Eowyn adik Eomer, dan Merry si pelayan raja Rohan. Kemenangan diraih oleh Gondor dalam perang tersebut.

Di dalam wilayah Mordor, Sam, tukang kebun Frodo, baru sadar dari pingsannya bahwa ia sedang berada di gua Shelob dengan masih menggunakan cincin. Ia ingat bahwa sekarang tuannya sedang disekap di dalam menara Orc, entah di mana jalan masuknya. Sam berlari menyusuri gua hingga akhirnya menemukan jalan masuk ke menara dan menemui banyak Orc bergeletakan tak bernyawa. Sam sempat kebingungan mencari keberadaan tuannya di menara Orc yang kotor itu. Di tengah keputuasaannya, Sam bernyanyi di tengah tangga yang sepi. Salah satu Orc mendengar nyanyiannya, dan mengira Frodolah yang bernyanyi. Orc tersebut lalu berjalan menuju ruangan tempat Frodo disekap untuk memukulnya. Dari sinilah Sam berhasil mengetahui di mana tuannya disekap dan berhasil menyelamatkannya.

Setelah Frodo berhasil diselamatkan, Sam dan Frodo menyamar menjadi Orc dengan menggunakan pakaian hasil rampasan dari Orc-Orc yang tewas di benteng Orc tempat Frodo disekap. Mereka terus berjalan menuju Gunung yang kakinya sudah bisa mereka lihat dengan jelas. Namun ternyata, daerah dalam Mordor adalah daerah gersang tanpa apapun di atasnya kecuali perkemahan Orc dan manusia jahat. Dan ini akan menyusahkan perjalanan Frodo dan Sam, di mana mereka akan sangat mudah terlihat, baik sang mata atau makhluk-makhluk jahat Mordor lainnya.

Hal ini diketahui oleh rombongan di Gondor, di mana mereka akan melancarkan serangan di Mordor bersama bangsa-bangsa manusia lain yang telah menang pertempuran, untuk mengalihakan perhatian sang mata dan pasukan-pasukannya. Dengan begitu, perjalanan Frodo dan Sam akan baik-baik saja menuju jantung Gunung Doom. Namun ternyata, banyak hal tak terduga datang, alih-alih serangan dari makhluk jahat Mordor.

Review Sampai di ending The Two Towers yang diakhiri dengan menangnya kaun Rohirim, aku kira sudah tinggal happy endingnya gitu. Ternyata ENGGAAAAKKKK!!!!

Frodo harus mengalami berbagai siksaan oleh para Orc sebelum Sam menemukannya. Aku kira juga setelah Sam berhasil menemukan Frodo, mereka bakal jalan ke jantung Gunung Doom dengan sedikit rintangan. Tapi ternyata ENGGAAAAAAKKKK!!!

Bukannya aku berfikir terlalu sempit tentang konflik-konflik di buku ini. Tapi setelah membaca dari buku sebelumnya, The Two Towers, J. R. R. Tolkien berhasil membuat satu set cerita, atau satu scene dalam film menjadi empat sampai lima (bahkan lebih) halaman. Jadi aku kira, buku ketiga ini adalah penutup yang diberi banyak bumbu, alih-alih konflik.

Kenyataannya, buku ketiga ini adalah klimaks dari segala klimaks dari serial The Lord of the Rings. Banyak perang, banyak tekanan batin, banyak hal-hal unpredictable di setiap lembar-lembar halamannya.

Tetap dengan gayanya bercerita yang menggunakan sastra kuno, J. R. R. Tolkien berhasil membuat lima panca indera setiap pembaca berfungsi. Bisa ikut merasakan betapa gersangnya daerah Mordor atau betapa menegangkannya peperangan itu.

Ada satu cuplik adegan favoritku di buku ini, yaitu adegan saat rombongan Rohirrim sampai di daerah Gondor untuk membantu perang Gondor melawan Mordor. Raja Rohan, Theoden, meneriakkan suatu ‘ucapan pembuka’ sebelum perang, di mana perang adalah hal mulia bagi setiap orang. Menang atau kalah, pembela kebenaran dalam perang adalah orang yang berani dan terpuji, serta patut dihormati. Dalam adegan ini pula, Raja Theoden mengingatkan pada kaum Rohirrim untuk tidak takut, dan ingat akan persaudaraan yang mereka jalin dengan Gondor. Benar-benar raja yang patut diacungi jempol. Aku bahkan sempat nangis pas Raja Theoden terbunuh.

Dari keseluruhan cerita, ini cerita yang akhirnya bisa bikin aku bernafas lega setelah diguncang berbagai peristiwa-peristiwa mengerikan yang sampai terbawa dalam mimpi. Sempat sedih pas selesai baca ceritanya. Karena ini bener-bener perpisahan. Di akhir buku The Return of The King diberi timeline peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum, sedang, dan sesudah perjalanan Frodo.

Tidak ada komentar lagi. Langsung aja lima bintang jatuh……

🌠 🌠 🌠 🌠 🌠

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *